Jan
07

Keistimewaan Madu sebagai Obat Luka

Tentu kita tak pernah ragu pada firman Allah SWT yang menyatakan bahwa madu adalah obat dan hal tersebut sudah dibuktikan oleh nenek moyang kita sejak ribuan tahun yang lalu telah menggunakan madu sTentu kita tak pernah ragu pada firman Allah SWT yang menyatakan bahwa madu adalah obat dan hal tersebut sudah dibuktikan oleh nenek moyang kita sejak ribuan tahun yang lalu telah menggunakan madu sebagai obat, mulai dari sakit ringan sampai sakit yang berat, termasuk juga dalam pengobatan luka .  Dalam dunia kesehatan saat ini sudah makin banyak penelitian terkait madu dan penelitian-penelitian terkait madu tak pernah berhenti.

Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Konferensi tersebut membahas pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari, dan propolis dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter Rumania mengatakan bahwa ia mengujikan madu untuk pengobatan pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh total. Para dokter Polandia juga menyatakan dalam konferensi tersebut bahwa resin lebah dapat membantu penyembuhan banyak penyakit seperti wasir, masalah kulit, penyakit ginekologis, dan berbagai penyakit lainnya.

Begitu pula dengan penggunaan madu sebagi  obat luka, menurut Dr Andrew Jull dari Klinik Universitas Auckland, New Zealand mengatakan bahwa madu bisa menjadi obat yang baik untuk mengatasi luka bakar.  Pada tahun 1998 pernah dilakukan studi di India yang hasilnya menunjukkan bahwa madu punya efek penyembuh yang sangat baik untuk luka bakar.

Sebuah penelitian di University of Waikoto, Hamilton, Selandia Baru menunjukkan bahwa madu mengandung anti biotic alami yang sangat mujarab dalam menangkis serangan bakteri. Ada banyak infeksi yang mampu diobati dan dihambat dengan mengkonsumsi madu secara teratur, antara lain saluran pencernakan, penyakit kulit, batuk, pilek, dan infeksi saluran pernafasan, deman dan hati.

Read the rest of this entry »

Jan
03

Cara Mengetahui Keaslian Madu


Madu selain enak diminum ternyata mempunyai banyak keutamaan dan berkhasiat, tidak hanya untuk diminum, ternyata madu terbukti secara ilmiah dapat digunakan untuk mengobati luka diabetes. Namun harus dengan madu asli, yang menjadi masalah adalah kita tidak mengetahui apakah madu yg kita pakai untuk mengobati luka tersebut apakah memang benar madu itu murni/asli atau tidak. Jangan sampai karena ketidaktahuan kita akan kualitas madu tersebut alih2 ingin merawat luka dengan baik, eh..luka makin memburuk.

Secara kasat mata memang sulit tuk langsung menilai bahwa madu tersebut asli/tidak cara yang paling akurat adalah dengat mengetesnya pada sebuah laboratorium sehingga akan didapatkan suatu nilai yg teruji. Lewat uji kuantitas, madu dapat diperkirakan dipalsukan atau ditambahkan sesuatu apabila; kadar sukrosa madu naik, kadar enzim naik/turun, kadar abu menjadi naik/turun, daya hantar listrik naik, kandungan pollen dalam sedimen turun, kandungan mineral turun, aroma dan rasa berubah, kandungan HMF (Hidroksi metal Furfuraldehid) berubah, kadar protein turun, warnanya terang, madu mengandung PbCl2, PbSO4, anion dan kation.

Kandungan HMF yang merupakan produk pemecahan glukosa dan fruktosa pada madu asli maksimal 3 mg/100 gram. Madu asli juga memiliki keasaman (pH) yang tetap berkisar 3,4-4,5, sedangkan pH madu palsu 2,4-3,3 atau diatas 5. Aktifitas enzim diastase pada madu asli yang berkualitas minimal 5 dengan rasio Kalium(K) dan Natrium(Na) sekitar 4,0. Pada madu palsu rasionya 0,05-0,1. Madu asli memiliki sifat khas memutar optic ke kiri yang bisa diperiksa dengan alat polarimeter.

Read the rest of this entry »

Dec
22

Perawatan Paliatif, Apa Sih?

Perawatan paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif dan menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi.Tujuannya untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien meninggal, yang terpenting sebelum meninggal dia sudah siap secara psikologis dan spiritual, serta tidak stres menghadapi penyakit yang dideritanya.

Jadi, tujuan utama perawatan paliatif bukan untuk menyembuhkan penyakit. Dan yang ditangani bukan hanya penderita, tetapi juga keluarganya.

Dulu perawatan ini hanya diberikan kepada pasien kanker yang secara medis sudah tidak dapat disembuhkan lagi, tetapi kini diberikan pada semua stadium kanker, bahkan juga pada penderita penyakit-penyakit lain yang mengancam kehidupan seperti HIV/AIDS dan berbagai kelainan yang bersifat kronis.

Prinsip-prinsip perawatan paliatif adalah sebagai berikut:

  1. Menghargai setiap kehidupan.
  2. Menganggap kematian sebagai proses yang normal.
  3. Tidak mempercepat atau menunda kematian.
  4. Menghargai keinginan pasien dalam mengambil keputusan.
  5. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.
  6. Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan spiritual dalam perawatan pasien dan keluarga.
  7. Menghindari tindakan medis yang sia-sia.
  8. Memberikan dukungan yang diperlukan agar pasien tetap aktif sesuai dengan kondisinya sampai akhir hayat.
  9. Memberikan dukungan kepada keluarga dalam masa duka cita.

Read the rest of this entry »

Dec
22

Tips Merawat Luka Kanker

Kanker di organ manapun pada tubuh  sering kali menyebabkan luka terbuka yang semakin lama akan kian membesar, belum lagi dampak secara fisik maupun psikologis mengingat luka kanker mempunyai ciri khas yaitu mengeluarkan  bau, belum lagi resiko berdarah,  oleh karena itu dalam merawat luka kanker harus dengan tehnik yang baik sehingga masalah2 tersebut dapat di kurangi, terlebih lagi dampak psikologis penderita. Berikut tips dan trik merawat luka kanker:

  1. Baca doa sebelum mengganti balutan agar diberi kemudahan dan kelancaran juga member I ketenangan
  2. Pada prinsipnya luka kanker bukanlah luka steril jd persiapkan alat yg di butuhkan cukup dalam kondisi bersih bukan steril
  3. Sebelum perawatan luka/ganti balutan ada baiknya jika mandi terlebih dahulu agar tercipta kesegaran yang mungkin tidak didapatkan ada ketika balutan ( baru diganti) dan dapat mempermudah lepasnya balutan luka
  4. Buka balutan lama dengan menggunakan sarung tangan bersih
  5. Bilas kembali dengan Nacl/air rebusan daun jambu biji
  6. Oleskan salep yang mengandung metronidazol ( metronidazol dapat mengurangi bau pada luka), jika salep sulit di oleskan pada luka, maka salep dapat dioleskan pada balutan yang akan menempel langsung pada luka.
  7. Untuk mengurangi resiko terjadinya luka berdarah, ada baiknya menggunakan balutan modern yang mempunyai kandungan calcium alginate yang mampu mencegah/mencegah terjadi luka berdarah
  8. Tambahkan kassa/pembalut wanita/underpad/pempers ( mengingat luka kanker juga akan memproduksi cairan yg banyak)
  9. Tutup luka secara baik dengan plester  / occlusive sehingga meminimalkan terjadinya infeksi dari luar.
  10. Ganti balutan 3 hari sekali atau jika cairan sudah menembus pada balutan yang paling luar

Semoga tips tersebut berguna…dan jika keluarga kesulitan jangan ragu untuk menghubungi perawat luka ……

Dec
21

Mengenal Luka Tekan


Luka tekan adalah rusaknya jaringan kulit yang disebabkan oleh adanya penekanan yang lama pada daerah tersebut. Biasa juga disebut pressure ulcer, bedsores, decubitus ulcers

Penyebab:

Terjadi karena adanya penurunan aliran darah kedaerah yang mengalami penekanan dan menyebabkan kerusakan pada daerah tersebut. Hal ini dapat terjadi jika penekanan terjadi dalam awktu yang lama tanpa pergeseran berat badan anda (misalnya setelah operasi/cedera)

Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko terjadinya luka tekan:

  • Immobilisasi dalam waktu lama/hrs bergantung dgn kursi roda
  • Tidak mampu untuk memindahkan bagian-bagian tertentu dari tubuh Anda tanpa bantuan, seperti cedera tulang belakang atau cedera otak atau jika Anda memiliki penyakit seperti multiple sclerosis
  • Memiliki kondisi kronis, seperti diabetes atau penyakit pembuluh darah, sehingga aliran darah juga terganggu
  • Memiliki cacat mental dari kondisi seperti penyakit Alzheimer
  • Memiliki kulit rapuh
  • Memiliki kegagalan dalam mengontrol BAB/BAK
  • Tidak mendapatkan cukup nutrisi (malnutrisi)

Gejala:
Diawali seperti kulit memerah yang semakin memburuk dari waktu ke waktu. Membentuk blister/lepuh, kemudian luka terbuka, dan akhirnya kawah.

Tempat yang paling umum untuk ulkus tekanan untuk membentuk tulang lebih dekat dengan kulit, seperti siku, tumit, pinggul, pergelangan kaki, bahu, punggung, dan belakang kepala.

Dekubitus dikelompokkan oleh seberapa parah, dari Tahap I (tanda-tanda awal) untuk Tahap IV (terburuk):

Tahap I: terdapat kemerahan pada kulit yang, ketika ditekan, tidak menjadi putih. Ini menunjukkan bahwa ulkus tekanan mulai berkembang.
Tahap II: Kulit lepuh atau bentuk luka terbuka. Daerah sekitar yang sakit dapat merah dan teriritasi.
Tahap III: kerusakan kulit sekarang tampak seperti kawah. Ada kerusakan pada jaringan di bawah kulit.
Tahap IV: ulkus tekanan telah menjadi begitu mendalam bahwa ada kerusakan pada otot dan tulang, dan kadang-kadang tendon dan sendi.

Read the rest of this entry »

Dec
11

ADA KELOID?….KOK BISA ?

Kenapa ya, aku kalau habis luka sering jadi keloid?..kok bisa  yah? ..ehm..kenapa yah, yuk baca artikel ini moga bisa membantu.

Keloid adalah hasil  dari pertumbuhan jaringan yang abnormal sebagai respon dari adanya trauma (akibat tattoo, laserasi atau injeksi).  Inflamasi, pembedahan atau luka bakar , sesekali tampak spontan (Murray & Pinnell 1992 p.500). Keloid disebabkan oleh pengendapan yg berlebihan dari kolagen dalam kulit luka yang sembuh, sering juga mengakibatkan bentuk  aneh yang melampaui batas luka asli.

Keloid lebih sering terjadi pada orang berkulit hitam dan mereka yang memiliki riwayat keluarga memiliki keloid. Dan biasanya terdapat pada wajah dan leher, bagian atas dada dan lengan. Keloid tidak akan hilang dengan sendirinya, dapat hilang jika diiinginkan/dilakukan treatmen tertentu.

Treatmen utk mengatasi keloid ini bermacam-macam:

  1. Pembedahan menggunakan cara tradisional atau laser
  2. Pemberian injeksi corticosteroid
  3. Pemberian tekanan pada saat membalut ( compression bandaging)
  4. Pemberian obat oral yang dapat mengganggu sintesis kolagen (mis: methotrexate, penicillamine)
  5. Terapi radiasi

Meskipun tidak umum, bekas luka keloid dapat terus membesar dan mengalami perubahan kearah keganasan, jika dicurigai mengalami perubahan neoplastik dapat dilakukan biopsi untuk  investigasi lebih lanjut.

Untuk menghindari/mengurangi resiko  terjadinya keloid, disarankan jika mempunyai luka agar dirawat dengan baik dan tepat, terutama pemberian tehnik balutan kompresi pada mereka yang mempunyai resiko keloid, sehingga pembentukkan keloid dapat diminimalkan.

Sekian dulu..moga bermanfaat…

Nov
26

Apakah luka Boleh Dicuci?

Boleh ga sih luk di cuci? Nanti tambah basah gimana? Jd tambah lama sembuhnya deh.., Benar ga sih sebenarnya pendapat tersebut???, trs kalo boleh mencucinya bagaimana dan pakai apa sih?

Nah baca terus tulisan ini yah kalo mau tau jawabannya…

Mencuci luka dengan lembut namun tegas adalah sangat penting untuk menghilangkan jaringan mati dan benda asing yang menempel pada luka tersebut yang mana bila jaringan mati /benda asing tersebut masih terdapat pada luka maka akan mengakibatkan luka akan mengalami hambatan dalam proses penyembuhannya.

Cairan luka normalnya mengandung anti microbial yang berguna untuk melindungi luka (Hohn, et al,1977). Cairan luka juga mampu membersihkan luka dan melindungi luka sehingga menciptakan lingkungan luka yang cocok untuk proses penyembuhan luka. Walaupun demikian , cairan luka yang berlebihan juga akan menyebabkan terjadinya maserasi pada sekitar luka dan dapat menyebabkan bakteri berkembangbiak.

Oleh karena itu adalah sangat penting untuk menjaga kulit sekitar luka bersih dan terlindungi. Sehingga akan mempermudah terjadinya proses epitel.

Indikasi luka perlu di cuci adalah:

  • Luka infeksi
  • Eksudat luka berlebihan
  • Adanya benda asing, jaringan mati, eschar atau slough
  • Butuh untuk mengurangi  kontaminasi

Cairan yang digunakan untuk mencuci luka harus dapat dipastikan tidak menghambat proses penyembuhan luka.

Berdasarkan penilitian yang telah dilakukan beberapa tahun yang lalu dapat disimpulkan bahwa cairan luka yang mengandung  antiseptic  adalah toksik untuk luka (Lineaweaver et al,1985 and Rodeheavar,1988)

Cairan yang digunakan sebaiknya hangat, sesuai dengan dengan suhu tubuh

Metode pencucian luka juga harus disesuaikan dengan kondisi/lokasi luka. Seorang perawat harus dapat menentukan sendiri cara mencuci yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi luka, lokasi luka juga kemampuan mobilisasi pasien. Bisa luka dimasukan kedalam satu wadah yang berisi cairan cuci luka atau dapat juga menggunakan spuit/infuse set (jika luka berongga), hal tersebut membutuhkan kreativitas perawat. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah perawat selalu mencuci tangan sebelum mencuci luka dan menggunakan sarung tangan. Dan yang juga harus diperhatikan bila menggunakan spuit/infuse set agar dipastikan tekanan yang diberikan tidak berlebihan agar tidak merusak jaringan.

Ok Ners..met cuci2 luka yah…

Nov
19

Ketika Pasien membutuhkan Perawat Homecare

Di awal perjalanannya home care nursing sesungguhnya merupakan bentuk pelayanan yang sangat sederhana, yaitu kunjungan perawat kepada pasien tua atau lemah yang tidak mampu berjalan menuju rumah sakit atau yang tidak memiliki biaya untuk membayar dokter di rumah sakit atau yang tidak memiliki akses kepada pelayanan kesehatan karena strata sosial yang dimilikinya. Pelaksanaannya juga merupakan inisiatif pemuka agama yang care terhadap merebaknya kasus gangguan kesehatan. Perawat yang melakukannya dikenal dengan istilah perawat kunjung (visiting nurse). Bentuk intervensi yang diberikan berupa kuratif dan rehabilitatif. Pada saat pasien dan keluarga memutuskan untuk menggunakan sistem pelayanan keperawatan dirumah (home care nursing), maka klien dan keluarga berharap mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkannya dari pelayanan keperawatan dirumah sakit.

Dibawah ini merupakan beberapa alasan pasien menggunakan layanan home care

1. Home care memberikan perasaan aman karena berada dilingkungan yang dikenal oleh klien dan keluarga, sedangkan bila di rumah sakit pasien akan merasa asing dan perlu adaptasi.

2. Home care merupakan satu cara dimana perawatan 24 jam dapat diberikan secara focus pada satu pasien, sedangkan dirumah sakit perawatan terbagi pada beberapa pasien.

3. Home care memberi keyakinan akan mutu pelayanan keperawatan bagi klien, dimana pelayanan keperawatan dapat diberikan secara komprehensif (biopsikososiospiritual).

4. Home care menjaga privacy klien dan keluarga, dimana semua tindakan yang berikan hanya keluarga dan tim kesehatan yang tahu.

5. Home care memberikan pelayanan keperawatan dengan biaya relatif lebih rendah daripada biaya pelayanan kesehatan dirumah sakit.

6. Home care memberikan kemudahan kepada keluarga dan care giver dalam memonitor kebiasaan klien seperti makan, minum, dan pola tidur dimana berguna memahami perubahan pola dan perawatan klien.

7. Home care memberikan perasaan tenang dalam pikiran, dimana keluarga dapat sambil melakukan kegiatan lain dengan tidak meninggalkan klien.

8. Home care memberikan pelayanan yang lebih efisien dibandingkan dengan pelayanan dirumah sakit, dimana pasien dengan komplikasi dapat diberikan pelayanan sekaligus dalam home care.

9. Pelayanan home care lebih memastikan keberhasilan pendidikan kesehatan yang diberikan, perawat dapat memberi penguatan atau perbaikan dalam pelaksanaan perawatan yang dilakukan keluarga.

Jadi jangan ragu tuk menggunakan jasa perawat home care…ok.., Salam sehat…

Oct
18

Penanganan Luka Secara Tepat Sesuai Dengan Jenis Luka

Prof. DR. Dr. David S. Perdanakusuma, SpBP (K) adalah seorang Guru Besar Ilmu Bedah Plastik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Beliau lahir pada 5 Maret 1960 di Singkawang dan mulai pendidikannya di bangku Sekolah Dasar di Pontianak pada 1972, SMP di Pontianak pada 1975, dilanjutkan dengan SMA di Bandung pada 1979. Pendidikan Kedokteran diawalinya di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, dan lulus pada 1988. Setelah itu, beliau meneruskan minatnya pada bidang ilmu Bedah Plastik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta dan lulus pada 1997. Setelah lulus sebagai ahli bedah plastik, beliau meneruskan pendidikannya di Program Doktor Ilmu Kedokteran Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, dan lulus pada 2003. Selanjutnya, Prof. David ditetapkan sebagai konsultan Ilmu Bedah Plastik Kolegium Ilmu Bedah Plastik Indonesia pada 2006.

Hingga saat ini, Prof. David masih aktif berperan sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai Wakil Kepala SMF Bedah Plastik RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Di tengah-tengah kesibukan beliau saat memberikan seminar pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Bedah, dengan senang hati beliau menyediakan waktunya untuk diwawancarai MEDIKA.

Dalam kesempatan wawancara tersebut, Prof. David menjelaskan tentang prinsip penanganan luka yang seharusnya diterapkan di berbagai pusat pelayanan kesehatan di Indonesia. Beliau melihat bahwa tindakan yang dilakukan oleh banyak tenaga kesehatan dalam menangani luka masih perlu dikoreksi, karena perawatan luka yang dilakukan tetaplah sama, tanpa melihat jenis lukanya. Dari 1012 rumah sakit yang tersebar di Indonesia, baru 25 rumah sakit yang sudah menerapkan modern wound care atau sekitar 2,47%. Di Surabaya sendiri, hanya 3 dari 30 rumah sakit atau sekitar 10% yang sudah menerapkan modern wound care. Hal ini merupakan bukti ketertinggalan Indonesia dalam perhatian penanganan luka dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore. Ketertarikan beliau terhadap penanganan luka ini dimulai sekitar tahun 2000, ketika beliau hendak membahas disertasinya tentang keloid dengan seorang profesor di Amerika yang berkiprah di Wound Healing Society pada pertemuan ilmiah di Alburquerque.

Beliau menjelaskan bahwa luka secara dasar terdiri dari dua macam, yaitu luka akut dan luka kronik. Luka dapat dibagi juga menjadi enam macam, yaitu luka akut, luka nekrotik, luka slough, luka infeksi, luka granulasi, dan luka epithelialisasi. Luka yang disebutkan Prof. David tersebut memiliki tampilan masing-masing, yaitu luka nekrotik yang berwarna hitam dan kering, luka slough yang berwarna kuning dan basah, luka infeksi yang ditandai dengan cairan kuning kehijauan (pus), luka granulasi yang berwarna merah basah, serta luka epithelialisasi yang berwarna merah muda. Masing-masing jenis luka tersebut haruslah dirawat sesuai dengan keadaannya masing-masing. Dengan kata lain, prinsip penanganan luka sebaiknya adalah bahwa “menangani luka janganlah seragam”. Selain itu, beliau juga menerapkan bahwa sebaiknya apabila luka terlihat basah maka luka tersebut dikeringkan. Begitu pun sebaliknya, luka yang terlihat kering harus dibasahi atau dibikin lembab. Dengan prinsip ini, diharapkan penyembuhan luka dapat terjadi dengan lebih cepat.

Dalam penanganan luka, sudah umum diketahui bahwa salah satu yang harus dilakukan adalah tindakan debridement. Debridement bertujuan untuk membuat luka menjadi bersih sehingga mengurangi kontaminasi pada luka dan mencegah terjadinya infeksi. Debridement, menurut Prof. David, bisa dilakukan dengan beberapa cara, dari yang kurang invasif hingga invasif, yaitu debridement secara biologik, mekanik, otolitik, enzimatik, dan surgical.

Beliau juga menyarankan agar seyogyanya menggunakan berbagai macam wound dressing modern sesuai dengan jenis luka yang saat ini sudah tersedia di Indonesia. Karena, menurut pengalaman beliau, meskipun harganya sedikit lebih mahal tetapi apabila biaya perawatan luka dilihat secara jangka panjang maka biaya yang dikeluarkan sebenarnya lebih rendah tujuh kali lipat dibanding menggunakan kasa biasa. Hal ini terjadi karena proses penyembuhan luka yang lebih cepat serta penggantian dressing yang lebih jarang. Akan tetapi, karena ketersediaan wound dressing modern yang masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia, beliau setidaknya menghimbau kepada seluruh tenaga kesehatan di Indonesia, terutama di daerah perifer, untuk mengerti konsep penanganan luka secara tepat dan merawat luka sesuai dengan tampilan luka tersebut. Kembali beliau menegaskan bahwa menangani luka janganlah seragam.

Beliau berharap dengan diadakannya pembahasan penanganan luka pada Pertemuan Ilmiah Ilmu Bedah, para tenaga kesehatan, terutama ahli bedah, dapat memahami konsep penanganan luka yang benar. Beliau berpendapat bahwa para ahli bedah hendaknya mendapat prioritas pertama untuk mengerti prinsip penanganan luka, karena ahli bedah lah yang paling banyak menemui kasus luka. Ahli bedah juga yang paling berpotensi membuat luka pada jaringan sehat pasien. Penanganan luka sebenarnya mencakup bidang multidisiplin. Oleh karena itu, beliau juga sangat mengharapkan partisipasi semua tenaga kesehatan dari segala bidang, dari perawat, dokter umum, maupun spesialis, hingga pasien yang mempunyai pengalaman tentang luka. Karena itu, Prof. David sangat berharap agar suatu saat di Indonesia akan terbentuk Wound Healing Society (WHS). Dengan terbentuknya Wound Healing Society (WHS) di Indonesia, otomatis akan menjadi anggota Asian Wound Healing Society, karena keanggotaan Asian Wound Healing Society adalah negara, bukan bersifat pribadi. Secara pribadi, saya ikut dalam pembentukan dan inagurasi Asian Wound Healing Society. Tetapi, dengan belum terbentuknya Indonesian Wound Healing Society maka keanggotaannya menunggu sampai terbentuknya Indonesian Wound Healing Society. (Harya)

disadur dari Jurnal Medika Edisi No 08 Vol XXXV – 2009 – Profil

Oct
18

Tips Perawatan Kaki Diabetes

  1. Periksa  kaki  Anda tiap hari, terutama sela-sela jari dan bagian bawah kaki

Hubungi perawat spesialis luka diabetes jika ditemukan:

Pembengkakakn, kemerahan, melepuh

Adanya luka, tergores, perdarahan

Adanya masalah pada kuku ( panjang dan berjamur)

  1. Selalu menjaga kaki bersih dan kering
  2. Jangan gunakan sepatu yang sempit (pastikan sepatu nyaman digunakan)
  3. Jangan gunakan pemanas /air panas untuk kaki
  4. Jangan merokok (merokok mengurangi sirkulasi darah ke kaki)
  5. Jangan terlalu pendek ketika menggunting kuku
  6. Periksa sepatu sebelum digunakan

Benda asing pada sepatu dapat menembus kulit

Jahitan yang tidak rapih/rusak dapat menyebabkan iritasi

Yakinkan ukuran sepatu tidak sempit.

Pemeriksaan kaki pada menderita diabetes menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat penderita akan mengalami kehilangan sensasi pada daerah kaki/tangan sehingga akan beresiko terjadinya luka. Dan jangan lupa untuk menghubungi perawat luka diabetes jika ada luka walaupun kecil… semoga bermanfaat..



Older posts «